Friday, September 28, 2012

Dewa Bumi Pemberi Hoki nasib manusia ver 1


(ilmu untuk mengubah nasib)

aku sering mengajarkan siswa-siswa ku suatu mantra, mantra ini bukan mantra maha cahaya, bukan mantra tiada bandingan, bukan pula mantra tiada tara namun hanya satu mantra kecil.
Mantra ini ada dihampir semua kitab - kitab buddhis, sangat sederhana hingga terlewatkan orang. Mantra itu adalah mantra dewa bumi, bunyi mantra ini sebagai berikut :

NAMO SAMANTO MOTONAM OM TULU TULU TIWEI SOHA

dengan sungguh - sungguh aku memberitahukan kepada kalian semua bahwa mantra ini adalah sebuah ilmu rahasia untuk mengubah nasib. Bukankah itu cuma mantra dewa bumi yang biasa ? Tidak salah, ia mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengubah nasib, karena itu tidak boleh dianggap remeh.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, maka penyakit kulit yang dideritanya selama sepuluh tahun hilang lenyap.
Ada orang yang bertampang sial, seumur hidup miskin terus, setelah membaca mantra tersebut, lalu sinar kebahagiaan menyoroti wajahnya menjadi bercahaya, dan nasibnya pun berubah total dari miskin menjadi kaya.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, kemandulan yang telah diderita selama sepuluh tahun menjadi sembuh.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, seumur hidupnya sehat waalfiat.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, terus mendapat jodoh bagus mukanya bercahaya kemerah-merahan.
Ada orang yang membaca mantra tersebut lalu urusan-urusan yang tadinya tidak lancar, akhirnya menjadi lancar, tidak ada satupun hal yang membuatnya terhalang.
Ada orang yang membaca mantra tersebut, ia mendapatkan loterai besar. Walau orang lain jarang menganjurkan, aku justru menganjurkan supaya mantra ini banyak dibaca secara rutin dan terus-menerus. Inilah penemuanku : pada suatu meditasi aku merasa disampingku ada seorang tua yang berambut putih dengan wajah kemerah-merahan.
* kamu siapa ? Dewa Bumi.
* di dunia manusia apa yang anda akan lakukan ? Mengikuti orang yang punya rejeki.
* Bagaimana pandangan mu terhadap alam roh ? Lapisan nirwana merupakan kekosongan, lapisan dewa langit jernih dan suci, di lapisan dewa tanah rejeki dan malapetaka datang silih berganti.
* Aku bertanya kepada dewa bumi " bagaimana dengan nasib setiap orang ? " nasib ditentukan oleh karma ( sebab akibat ). Karena itu saling mengali dan bersilang ruwet. Manusia harus sadar bahwa segala sesuatu ditentukan oleh karma.
* Kamu bicara betul, lalu bagaimana cara mengubah nasib ? Apakah minta kepada budha ? Tidak cocok.
* Minta kepada dewa-dewi ? Juga tidak cocok.
* Minta kepada dewa tanah ? Nah itu cocok.
* Bagaimana caranya ? Baca mantra
* Mantra yang mana ? Mantra dewa bumi.

Orang tua lalu membawa ku naik kereta rusak mengarungi angkasa biru dan kami sampai disebuah gunung, ditengah gunung itu ada sebuah kota besar, berkilauan multu manikom, di dalam kota penuh dengan orang-orang yang berambut putih muka kemerah-merahan, ada ribuan bahkan puluhan ribu, mereka tampak sangat sibuk, ada yang baru mendarat, ada pula yang sedang siap-siap berangkat kelihatannya sibuk banget deh.
* Ini negeri apa ? Negeri Dewa Bumi.
* Para dewa bumi itu sedang sibuk apa ? Sedang memberikan bantuan mengatur dan mengubah nasib manusia. Begitulah penemuan ku kenyataan.
Akhirnya aku menyadari suatu kenyataan bahwa melatih diri menjadi buddha tentu bisa mengubah nasib. Melatih menjadi dewa, juga bisa mengubah nasib, tapi dengan langsung membaca mantra Dewa Bumi, perubahan nasib akan lebih langsung. Bila ingin mengubah nasib orang harus mempunyai kunci pembukanya pada prinsipnya, ilmu apapun juga harus disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, adanya kehendak benda dan kejanggalan, kejodohan, asalkan membaca mantra dewa bumi sering kali, puluhan kali, ratusan kali, ratusan kali secara sungguh-sungguh, maka sinar dewa bumi akan menyoroti, nasibnya akan berubah ini sungguh-sungguh lho.

" semboyan dewa bumi adalah amal tanpa pamrih